souvenir pernikahan

Tinggal di Rumah Mertua

Tiga Generasi Dalam Satu Atap | Seorang bapak muda (33) berbagi pikiran dan perasaan mengenai keadaan keluarganya. Dia, istri, dan dua anak mereka (5 tahun dan 3 tahun) tinggal bersama orangtua sang istri sejak mereka menikah.

Luas rumah yang memadai untuk tinggal bersama dan lokasinya yang relatif di tengah kota membuat mereka nyaman dan tidak kehilangan banyak waktu di jalan untuk pergi-pulang bekerja (istri sebagai anak tunggal, bahkan sering kali pulang belakangan karena tugas kantornya).

Namun, ada ganjalan pada hati sang bapak mengenai pengasuhan nenek yang dianggap terlalu memanjakan cucu-cucunya. ’’Saya ingin pendapat Ibu tentang kondisi tiga generasi yang hidup serumah seperti ini, apakah banyak keluarga yang seperti kami ini, biasanya alasannya apa, dan lebih banyak dampak baik atau buruknya ya?”

Beberapa fakta

Jawaban terhadap mana yang terbaik, tinggal dalam keluarga inti (ayah-ibu dan anak) atau bersama tiga generasi, bahkan dalam keluarga batih (extended family), tak bisa dipastikan secara mutlak Hal tersebut sangat ber-gantung pada alasan, kebutuhan, harapan, dan kondisi dari setiap generasi yang tinggal bersama.

Papalia, Olds & Feldman (2008) dalam bukunya Human Development menyatakan bahwa di banyak negara berkembang, sejak dahulu keluarga batih tam-pak mendominasi serta kakek-nenek memainkan peran integral dalam pengasuhan anak-cucu dan pengambilan keputusan keluarga lainnya. Banyak kakek-nenek merupakan pengasuh utama dari cucu mereka. Salah satu alasannya adalah migrasi para orangtua dari desa ke kota untuk mencari pekerjaan.

Di beberapa negara maju, dengan munculnya resesi ekonomi, alasan menghemat keuangan juga bisa menjadi penyebab dari kembalinya anak dewasa beserta cucu ke rumah sang kakek-nenek Faktanya, di Amerika Serikat, para kakek-nenek saat ini merupakan pengasuh anak nomor satu di berbagai negara, 21% dari anak-anak prasekolah dan 15% dari anak usia sekolah tinggal bersama kakek-nenek ketika ibu mereka bekerja. Kegiatan yang paling sering dilakukan para nenek-kakek dengan cucunya adalah makan bersama, menonton tv, berbelanja, membacakan cerita, berolahraga, atau bermain bersama

Di AS lebih dari 50% kakek membiayai keperluan pendidik-an cucunya, 45% membantu membayar biaya hidup sang cucu, dan sekitar 15 % kakek-nenek mengurus cucunya ketika orangtua bekerja Secara umum, dibandingkan dengan kakek para nenek lebih akrab dan hangat hubungan dengan cucunya, khususnya cucu perempuan.

Alasan lain yang membuat tiga generasi hidup bersama adalah pilihan untuk mengurus nenek-kakek yang sudah menurun kebugaran dan kesehatan fisik-nya. Untuk menunjukkan bakti kepada generasi pertama, generasi kedua dan ketiga bersama-sama melakukan perawatan dan pemberian kasih sayang dalam hidup bersama sehari-hari. Dari keterangan bapak muda di atas, alasan mereka tinggal bersama tampaknya lebih condong untuk memenuhi keinginan generasi pertama yang akan kesepian apabila tinggal sendirian di rumah yang relatif besar, selain kemungkinan ada pula kebutuhan untuk hidup lebih tenang dari istri sebagai putri tunggal yang harus meninggalkan keluarga karena bekerja penuh waktu.

Keuntungan

Kakek-nenek yang sering berkomunikasi dengan cucu mereka, yang merasa positif tentang masa menjadi kakek-nenek dan me-miliki harga diri yang tinggi cen-derung lebih puas dengan kondisi mereka (Papalia Olds & Feldman). Hal ini lebih mungkin terjadi jika mereka hidup bersama dalam satu atap. Secara psikologis, kemungkinan generasi pertama mengalami empty nest syndrome menjadi menurun karena dapat terus berada bersama anak cucu sehingga dapat terus menjalan-kan peran menjadi orangtua

Bagi semua pihak, khususnya generasi kedua dan ketiga, keuntungan finansial sudah pasti diperoleh karena tinggal bersama akan memberikan penghematan dalam berbagai jenis pengelu-aran. Juga rasa aman dan nyaman bagi generasi kedua karena cucu-cucu berada di rumah yang berisi banyak orang serta curahan kasih sayang dan perhatian maksimal yang diberikan seisi rumah. Para cucu dapat lebih awal bersosialisasi dan berbagi perhatian dengan lebih banyak pihak yang berbeda usia dan ke-adaannya, sekaligus belajar ber-toleransi.

Perlu waspada

Sebagai generasi pertama, menjadi orangtua pengganti tan-pa rencana dapat menguras kondisi fisik, emosional, dan finansial pada orang dewasa yang telah menua. Mereka mungkin harus berhenti dari pekerjaan mereka, atau secara drastis mengurangi waktu luang dan kehidupan sosial mereka, serta dapat mem-bahayakan kesehatan mereka sendiri. Kakek-nenek tidak lagi memiliki energi yang cukup banyak, kesabaran, atau stamina yang pernah dimiliki untuk ikut terlibat dalam kegi-atan fisik sang cucu, dan mungkin tidak sesuai dengan cara-cara mengasuh dan mendidik yang diinginkan generasi ‘kedua se-bagai orangtua.

Kebanyakan kakek-nenek yang mengambil tanggung jawab untuk membesarkan cucu mereka melakukannya karena mereka mencintai anak-anak dan tidak ingin mereka berada di tempat penitipan anak yang asing. Namun, bagi beberapa orang, pengasuhan neiiek-kakek dapat menghasilkan ketegangan dalam hubungan mereka sendiri, ataupun dalam hubungan antar-generasi, seperti yang dialami bapak muda di atas. Oleh karena itu, sejak awal untuk hidup bersama dalam keluarga tiga generasi perlu ditetapkan batasan-batasan dalam aneka aspek kehidupan. Keterbuakan dan keberanian untuk menyatakan keinginan dan perasaan setiap pihak perlu di-tindaklanjuti dengan keterampil-an interpersonal yang lebih baik, seperti kemampuan mendengar-kan, bertenggang rasa, asertif, dan bertoleransi.

Dengan demikian, kebahagi-aan dapat dicapai oleh setiap generasi karena seperti kata orapg bijak ’’Kebahagiaan berasal dari menerima orang lain sebagaima-na adanya, yang pasti berlainan satu sama lainnya. Betapa akan membosankan hidup ini jika setiap orang sama, seperti taman yang kurang indah apabila semua hunganya berwarna kuning?” | Oleh Agustine Dwiputri

wanita kesepian 2 (120), wanita kesepian 3 (104), mertua kesepian (102), ibu mertua kesepian (54), mertua pengganti istri (36), Mertuaku kesepian (35), Ibu mertua pengganti istri (32), mertuaku pengganti istriku (28), ibu mertuaku kesepian (19), ibu mertua yang kesepian (15), ibu mertuaku yg kesepian (13), kisah mertua kesepian (10), ibu mertuaku pengganti istriku (9), mertua yg kesepian (8), ibu mertua yg kesepian (7), Mertua yang kesepian (7), mertuaku yg kesepian (6), Mertuaku pengganti istri (4), Kisah ibu mertua yang kesepian (3), mertua ku kesepian (3)
sumber: Kompas 24 Juni 2012
Ingin Copy Paste?
Gunakan kode diatas untuk copy paste aman dan legal di blog anda

Post Navigation