souvenir pernikahan

Macam Jenis Investasi

Alokasi Investasi di Era Ketidakpastian | Dalam dua bulan terakhir dari semester pertama 2012 ini, cukup banyak investor yang jantungnya berdebar keras. Krisis yang melanda Eropa sedikit banyak memberi pengaruh terhadap perekonomi-an Indonesia, khususnya pasar modal. Dan lebih khusus lagi ada-lah pasar saham. Lihat saja In-deks Harga Saham Gabungan yang sempat terperosok di ki-saran 3.600 setelah sebelumnya mampu bertengger di angka 4.200-an. Ini teijadi karena cukup banyak investor asing yang melepas saham dan kemudian memberi dampak terhadap jatuhnya harga saham.

Namun, lepas dari situasi itu, sebagai investor, tentu Anda mesti melakukan evaluasi terhadap investasi yang sudah di-lakukan sepanjang tahun 2012 ini, setidaknya hingga semester pertama. Dari evaluasi tersebut, Anda bisa mengambil kesimpulan untuk memperbaiki portofolio investasi, termasuk menata ulang alokasi dana dan pilihan investasi pada semester dua nanti. Dan untuk melakukan realokasi investasi, tentu harus kembali ke-pada pengetahuan dasar, yakni memahami karakteristik jenis atau altematif investasi dan di-kaitkan dengan kondisi pereko-nomian secara umum.

Terkait dengan alokasi dan pilihan investasi tersebut, pernah ada survei terhadap investor ataupun calon investor, jenis investasi apa yang dianggap me-narik. Hasil survey tersebut me-nyebutkan bahwa masyarakat kebanyakan menempatkan tanah sebagai pilihan investasi teratas, diikuti oleh berbagai pilihan investasi lainnya, yakni, emas, de-posito, obligasi, saham, tabungan, rumah, dan juga mobil.

Apakah pilihan investasi tersebut masuk akal dalam keadaan ekonomi yang masih diliputi ketidakpastian saat ini?

Investasi tanah dan emas

Tanah, misalnya. Jika lokasinya strategis, lazimnya dari wak-tu ke waktu akan mengalami pe-ningkatan harga. Ini mudah di-pahami, sebab, di lokasi yang strategis akan terjarli perkem-bangan ekonomi. Sciring dengan itu, akan ada permintaan terhadap tanah di sekitar, yang pada gilirannya akan mendongkrak harga. Jadi, jika menjadikan tanah sebagai alat investasi, kata kuncinya adalah lokasi. Dan ini terkait dengan informasi. Apakali di sekitar lokasi tanah yang akan dibeli akan ada rencana pengem-bangan atau tidak.

Kesimpulannya, investasi pada tanah berpotensi menguntung-kan jika investor memahami karakteristik lokasi tanah dimak-sud. Lalu bagaimana dengan situasi ekonomi saat ini? Investasi pada tanah bersifat jangka pan-jang. Dan ekonomi yang kurang baik, suatu ketika, akan baik kembali. Jadi, jika Anda menjadikan tanah sebagai salah satu alternatif investasi, bukanlah hal yang keliru.

Selanjutnya adalah emas. Sejak zaman dulu, emas sudah dikenal sebagai alat investasi tradisional. Dengan beragam alasan, kita bisa melihat masyarakat di sejumlah daerah, setiap memiliki kelebih-an dana pasti akan membeli emas. Selain sebagai barang per-hiasan, emas juga digunakan sebagai “simpanan” yang sewak-tu-waktu dapat dijual kembali. Bahkan jika membutuhkan dana mendesak, emas tersebut bisa digadaikan.

Namun, jika dilihat dari aspek keuangan, emas sebagai alat investasi sebenamya merupakan dampak langsung fungsi dan per-annya yang dikaitkan dengan ni-lai tukar dan juga sebagai ca-dangan devisa bagi suatu negara Dalam beberapa mazhab teori keuangan, harga emas disebut-kan berbanding lurus dengan ni-lai dollar AS. Jadi, berinvestasi pada emas, dianggap setara dengan berinvestasi pada dollar AS.

Saham, obligasi, deposito

Deposito berjangka bagi orang-orang yang memilikinya dipastikim setiap bulan akan mendapatkan imbalan bunga Di samping itu, deposito berjangka relatif memilikLrisiko yang ren-dah. Itu pula sebabnyn, imbal hasil (return) deposito berjangka relatif paling rendah dibandingkan dengan produk lainnya di sektor keuangan. Sementara itu, saham merupakan pilihan investasi yang berpotensi memberikan return paling tinggi dibandingkan investasi lainnya. Selain potensi dividen dari saham yang dipe-gang, investor juga bisa mendapatkan capital gain jika harga saham yang dipegangnya mengalami kenaikan.

Masalahnya, kondisi bursa saham saat ini memang dalam keadaan turbulensi. Jika pembelian saham dimaksudkan sebagai investasi jangka pendek, ada ba-iknya untuk dipertimbangkan kembali. feebab, bukan tidak mungkin yang akan diperoleh hanyalah capital loss. Tetapi, jika tujuan berinvestasi di saham bertujuan jangka panjang, seka-ranglah saat yang tepat untuk masuk ke pasar. Kenapa? Karena harga saham di pasar saat ini relatif murah dan umumnya tengah mengalami penurunan harga

Bagaimana dengan obligasi ? Saat ini bahkan sudah ada obligasi ritel yang diterbitkan oleh pemerintah. Sebagai alternatif investasi jangka panjang, obligasi bisa menjadi pilihan menarik karena investor akan mendapatkan imbalan bunga yang sudah pasti dan juga kemungkinan capital gain jika harga obligasi yang di-pegang mengalami kenaikan harga di pasar. Obligasi juga memiliki risiko yang lebih rendah dibandingkan dengan saham.

Tabungan. hakikatnya, bukan lah sebagai alat investasi. Ada beberapa alasan. Misalnya, tabungan bisa ditarik kapan saja, di mana saja Ini memperlihatkan bahwa karakteristik tabungan adalah bukan dana untuk disim-pan, melainkan sebagai kemu-dahan transaksi dan kebutuhan likuiditas. Lebih dari itu, tingkat bunga tabungan jauh di bawah bunga deposito. Bahkan kalau di-hitnng secara neto, imbal hasil tabungan atas dana yang meng-endap bisa di bawah laju inflasi. Jadi nilai uang di tabungan, setiap tahunnya malah bisa me-nurun kendati secara nominal mengalami peningkatan. Oleh karena itu, tabungan belum bisa dimasukkan sebagai pilihan investasi. | oleh Elvyn G Masassya

macam macam pilihan investasi (1)
sumber: Kompas 24 Juni 2012
Ingin Copy Paste?
Gunakan kode diatas untuk copy paste aman dan legal di blog anda

Post Navigation