Manusia dan Hukum

Menjelang pergantian tahun 2010, saya sempat merenungkan kembali gagasan founding fathers sebagaimana tertuang dalam Konstitusi: ‘Negara berdasarkan hukum’. Tahun 2010 yang telah kita tinggalkan telah menorehkan berbagai persoalan hukum, tidak saja pada soal formulasi UU seperti formulasi RUUK DIY, melainkan juga soal praktik penegakan hukum yang masih sarat dengan bertagai persoalan baik itu di tingkat penyidikan, penuntutan maupun di pemeriksaan di pengadilan dan bahkan ketika terpidana sudah berada di rumah tahanan. Akankah di tahun 2011 hukum benar-benar dapat hadir untuk membahagiakan dan mensejahterakan manusia, terutama manusia-manusia yang tidak berdaya? Negara tentu punya tugas untuk mewujudkan hal itu.

Negara ada karena punya wilayah, ada penduduk dan ada pemerintah. Penduduk yang dimaksud tentu menunjuk pada subjek yang namanya manusia, maka manusia yang ada dalam negara itulah yang harus dilayani dan dilindungi oleh hukum. Manusia menjadi titik sentral dan sekaligus alasan mengapa hukum harus dihadirkan dan ditegakkan. Para pemikir hukum selalu mengingatkan bahwa hukum dibuat untuk manusia artinya hukum dihadirkan untuk kebahagiaan dan kesejahteraan manusia, bukan justru sebaliknya. Menurut Allport sebagaimana juga diyakini oleh Saparinah Sadli, bahwa manusia itu becoming, terus berubah, terns menjadi sebelum akhimya dia mati.

Menyadari bahwa manusia itu becoming, tidak dapat dipungkiri bahwa hal tersebut juga akan mempengaruhi dinamika dalam masyarakat dimana ia berada yang pada akhimya juga akan meminta dukungan tatanan normatif (hukum) sebagai acuan bersama. Tentu saja tatanan normatif tersebut juga harus dibaca sebagai suatu produk budaya masyarakat yang menciptakan. Sangatlah masuk akal jika berbagai tatanan normatif yang demikian tidak begitu saja cocok untuk dioper ke dalam suatu tatanan normatif pada masyarakat yang anggota-anggotanya memiliki karakter yang berbeda, nilai-nilai yang berbeda.

Sebagai misal adalah ide untuk memaksakan tatanan normatif baru tentang demokrasi di tingkat lokal yang di satu sisi seolah menjadi kebenaran tunggal bahwa baru dikatakan ada demokrasi kalau kepala daerahnya dipilih oleh rakyatnya secara langsung, meski ide itu juga mengesampingkan fakta sejarah. Secara teoretis dan praktis, sesungguhnya pengoperan suatu tatanan normatif hanya dimungkinkan jika ada kesamaan karakter manusia dan nilai-nilai yang diyakininya. Dalam il-mu hukum hal itu sering disebut sebagai adanya kesamaan asas-asas hukum sebagaimana sering dikatakan Guru Besar UGM, Prof Sudikno Mertokusumo.

Menurut Satjipto, sistem hukum Pancasila cocok untuk mewadahi berbagai nilai karakteristik yang ingin diwadahi oleh sistem hukum kita seperti kekeluargaan, kebapakan, keserasian, keseimbangan dan musyawarah. Nilai-nilai tersebut merupakan akar budaya hukum kita. Harus diakui memang sampai saat ini seringkali ada persoalan ketidakharmonisan antara sistem formal yang didominasi legalisme liberal dan sistem kekeluargaan, kebapakan, keserasian, keseimbangan dan musyawarah. Dengan kata lain sering diwacanakan bahwa sistem hukum Pancasila tidak match dengan rule of law yang tentu saja lahir dari sistem sosial yang berbeda dengan sistem sosial kita.

Maka ide Gubemur DIY Sri Sultan HB X tentang perlunya rule ofmora/justru yang harus diutamakan dan dipertimbangkan dalam penyusunan Peraturan Gubemur tentang Pekerja Rumah Tangga (PRT) katimbang rule of law dapat dibaca sebagai upaya konkrit untuk mengejawantahkan karakteristik nilai dalam tatanan normatif yang hendak dibangun.

Ke depan mari kita tinggalkan praktik yang seringkali memaknai dengan secara sangat sederhana bahwa negara berdasarkan hukum adalah negara berdasarkan UU atau bahkan cukup hanya berdasarkan pasal-pasal. Maka membangun hukum juga hanya dimaknai membuat UU dengan seringkali mengatasnamakan kepentingan rakyat meski tidak jelas rakyat yang mana.

Pada akhimya terwujud tidaknya bangunan sistem hukum yang benar-benar Indonesia terutama harus berpulang pada kita semua. Beranikah kita melawan dan menolak berbagai kepentingan yang tidak berpihak pada kepentingan rakyat Indonesia yang sesungguhnya?  – Penulis, pakar ilmu hukum/Dekan FH UAJY – Dr W Sari Murti W

Konsep One Village One Product

Terapkan Konsep One Village One Product – Wonosobo (KR) – Pemkab Wonosobo melalui Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) berupaya menerapkan konsep one village one product (OVOP) di tiap-tiap wilayah. Sehingga masyarakat tani di pedesaan diharapkan mampu mengembangkan segala potensi yang ada di desanya mas-ing-masing untuk kesejahteraan mereka.

“Hal ini didasari, untuk mengangkat seluruh potensi setiap desa membutuhkan semangat kebersamaan. Sehingga potensi yang ada bisa tergarap optimal sesuai keinginan bersama,” kata Kepada Dinas Koperasi dan UMKM Wonosobo DreAgus Suryatin ST didampingi Kabid Pemberdayaan UMKM Nurman Asiyah di kantornya baru-baru ini

Menurut Agus, setiap desa memiliki potensi unggulan masing-masing. Dalam mengangkat potensi itulah diperlukan semangat kebersamaan. Hal ini penting agar pola pembangunan tidak terkotak-kotak atau tersentral di satu desa saja.

Dalam hal ini, konsep pembangunan OVOP harus benar-benar dijalankan secara lebih fokus dan berkesinambungan. Setiap desa harus mampu mengoptimalkan produk unggulan yang dimiliki, sehingga bisa memunculkan kekhasannya masing-masing, baik di bidang industri olahan makanan, hasil pertanian, perkebunan, maupun hasil alam lainnya.

“Warga sendirilah yang mengetahui potensi desanya. Pemerintah tinggal memfasilitasi usulan maupun aspirasi masyarakat. Hanya saja pola pembangunan yang dilakukan harus seimbang, sehingga antara desa satu dengan lainnya bisa maju secara bersama-sama dan tidak teijadi ketimpangan,” papamya.

“Harus ada konsep pembangunan kewilayahan yang jelas,” kata Agus. Sehingga setiap potensi bisa terangkat bersama. Tentunya juga sesuai rencana pembangunan jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang daerah.

Penanaman Toga, Tanaman Obat

Apabila persediaan air mencukupi, walaupun di musim kemarau penanaman toga bisa dilakukan. Akan tetapi, sebaiknya penanaman tanaman obat dilakukan pada awal musim penghujan agar bibit lebih cepat tumbuh dan mudah beradaptasi dengan lingkungan. Pada saat pemindahan bibit dari polibag, usahakan tanah dalam polibag tidak retak. Hal ini dapat mengakibatkan akar terputus sehingga dapat mengganggu proses pertumbuhan tanaman atau bahkan menimbulkan kematian. Jarak tanam yang dianjurkan kira-kira 30 x 30 cm atau 25 x 40 cm. Adapun tahapan penanaman bibit ke kebun sebagai berikut:

Pindahkan atau angkat bibit polibag yang terdapat di area pembibitan ke kebun.

Buka polibag bibit secara perlahan-lahan dengan cara menyobeknya menggunakan pisau tajam.

Masukan campuran media tanam (tanah, kompos, atau pupuk kandang yang dipersiapkan sebelumnya) sampai Vi bagian lubang tanam. Masukan bibit ke dalam lubang tanam.

Masukan Vi bagian campuran media tanam untuk menimbun.

Siram bibit toga yang baru selesai ditanam sampai media tanam basah seluruhnya agar penanaman toga berhasil.

Omzet Penjualan Tiwul

Selama Liburan Akhir Tahun Omzet Penjualan Tiwul Meningkat – Wonosari (KR) – Selama liburan akhir tahun, omzet penjualan makanan khas jenis tiwul di Kabupaten Gunungkidul naik dua kali lipat. Selama tiga hari kemarin Senin (3/1) tiap hari rata-rata mcmpcroleh Rp 8 juta lebih dan sebelumnya hanya memperoleh Rp 4 juta perhari.

Menurut keterangan Nita penjual makanan khas tiwul dan gatot Jalan Pramuka Wonosari meningkatnya per-mintaan makanan khas asal Gunungkidul terjadi sejak scminggu lalu. Puncak peningkatan penjualan terjadi dalam tiga hari kemarin saat pemudik akan kembali lagi ke perantauan. “Pesanan terbanyak untuk oleh-oleh ke Jakarta dan sekitarnya,” ujarnya, Senin (3/1).

Meskipun terjadi peningkatan jumlah pemesan, tetapi harga makanan khas baik tiwul maupun gaplek tidak naik. Warung makanan khas yang kini mangkal di J1 Pramuka Wonosari itu melayani pembeli dari harga Rp 5 ribu – Rp 15 ribu. Baik dalam kemasan besek maupun plastik. Dibanding liburan tahun lalu jumlah permintaan meningkat drastis. “Tahun lalu jumlah perolehan tidak mencapai Rp 8 juta seperti saat ini,” ucapnya.

Meskipun terjadi peningkatan permintaan tetapi pengadaan bahan baku tidak sulit. Untuk memenuhi permintaan pelanggan sejak jauh hari sudah menyiapkan stok baik untuk bahan baku gaplek untuk tiwul maupun gatot.”Gatot maupun tiwul dari Gunungkidul ini bisa bertahan selama lebih dari dua hari. Sehingga banyak pelanggan membelinya untuk oleh-oleh ke berbagai daerah di Jawa,” katanya.

Design baju batik Indonesia

Membuat design baju batik adalah salah satu kebanggaan bagi banyak desainer negeri kita. Mereka mengaku dengan membuat design busana batik, ada rasa kepuasaan ikut melestarikan budaya Indonesia. Ya, batik memang warisan budaya Indonesia yang telah diakui oleh dunia dan harus tetap kita jaga. Para desainer bekerja keras membuat design baju berbahan batik yang menarik dan bisa diterima semua kalangan, termasuk anak muda. Berkat mereka, para pembatik, pemerintah, dan pihak-pihak lain, kini anak muda Indonesia tidak lagi malu dan ragu menggunakan batik. Kesan baju batik yang formal, tua, dan kaku telah lama ditinggalkan. Berganti dengan kesan berbudi, Indonesia banget, bahkan gaul.

Desainer Kembangkan Design Baju Batik

Para desainer tidak hanya membuat design baju batik berupa kemeja saja, tapi juga kaos batik, jaket batik, gamis batik, celana batik, dan pakaian batik lainnya yang unik dan keren dikenakan. Tidak hanya masyarakat kita saja yang suka, tapi juga tokoh-tokoh dan artis luar negeri juga ikut memakai batik dalam beberapa kesempatan. Mereka umumnya terkesan dengan nilai sejarah, cara pembuatan, dan motif serta warna batik yang cantik dan elegan.

Batik memang berbeda dengan kain-kain lain. Proses pembuatannya membutuhkan kesabaran dan ketelitian, motif dan warnanya mengandung cerita dan nilai yang luhur, serta memakainya akan menimbulkan kebanggaan tersendiri. Apalagi sekarang pembuatan dan motif batik terus berkembang. Jika dulu batik dibuat dengan teknik tulis yang memakan waktu cukup lama, sekarang banyak batik dibuat dengan teknik cap yang lebih cepat. Bahkan ada juga mesin pembuat batik otomatis ciptaan putra Indonesia sendiri.

Ragam Motif Design Baju Batik

Motif dari design baju batik pun makin beragam. Jika dulu motifnya masih terbatas, sekarang sudah sangat banyak dan menerima pengaruh unik dari Cina, India, dan daerah-daerah pesisir Indonesia. Motif ini didukung oleh warna-warna terang seperti merah, hijau, biru, kuning, pink, dan ungu yang banyak digemari. Tidak lagi seperti dulu saat warna batik hanya dominan coklat. Dengan pesatnya perkembangan dan kepopuleran design baju batik, tidak ada alasan lagi untuk tidak memakai batik sekarang.