Komoditas Pernikahan

Banyak Acara Pernikahan | Pisang Raja Jadi Komoditas Langka | Pengasih (KR) – Pada saat banyak acara perkawinan seperti bulan-bulan ini, buah pisang jenis raja menjadi komoditas langka di pasaran. Pisang raja banyak dibutuhkan untuk hiasan (tarub) maupun melengkapi menu buah-buahan dalam acara perkawinan.

Masyarakat yang akan me-ngadakan acara perkawinan, mencari pisang langsung ke petani. Untuk mendapatkannya, harus melalui pemesanan beberapa bulan sebelumnya, pada saat tanaman baru mengeluarkan bakal buah.

“Bulan ini sudah banyak yang pesan pisang, khususnya pisang raja untuk acara perkawinan. Tfetapi hanya bisa melayani lima pemesan, se-suai tanaman pisang yang berbuah,” tutur Rubingan (55), petani pisang, warga Kalipetir Kidul, Desa Margosari, Kecamatan Pengasih kepada KR di rumahnya, Sabtu (3/6).

Menurutnya, di bulan Rejeb dan Besar pada penanggalan Jawa, permintaan buah pisang mengalami peningkatan cu-kup tajam. Pada bulan tersebut, banyak masyarakat me-ngadakan acara perkawinan. Buah pisang menjadi salah satu buah-buahan yang dibutuhkan.

Di wilayah Pedukuhan Kalipetir Kidul, katanya terdapat sekitar 35 petani di pekarangan rumah tempat tinggal menanam pisang untuk jenis pisang raja dan ambon. Rata-rata setiap petani menanam 50 batang dan sudah berproduksi. “Meskipun begitu, pada saat banyak acara perkawinan permintaan pisang belum dapat dipenuhi,” jelasnya.

Lebih lanjut dijelaskan, setelah mengetahui di bulan-bulan tertentu permintaan buah pisang tinggi, sejak sekitar tahun 2008 banyak warga di Kalipetir Kidul menanam pisang. Adanya hama penggerek batang palsu pisang, penyakit kerdil dan penyakit layu, produktivitas tanaman pisang tidak dapat maksimal. Ini dari pengalaman Rubingan yang sudah sejak tahun 2005, berkebun pisang di areal seluas ku-rang lebih 7.000 meter persegi.

Macam Jenis Investasi

Alokasi Investasi di Era Ketidakpastian | Dalam dua bulan terakhir dari semester pertama 2012 ini, cukup banyak investor yang jantungnya berdebar keras. Krisis yang melanda Eropa sedikit banyak memberi pengaruh terhadap perekonomi-an Indonesia, khususnya pasar modal. Dan lebih khusus lagi ada-lah pasar saham. Lihat saja In-deks Harga Saham Gabungan yang sempat terperosok di ki-saran 3.600 setelah sebelumnya mampu bertengger di angka 4.200-an. Ini teijadi karena cukup banyak investor asing yang melepas saham dan kemudian memberi dampak terhadap jatuhnya harga saham.

Namun, lepas dari situasi itu, sebagai investor, tentu Anda mesti melakukan evaluasi terhadap investasi yang sudah di-lakukan sepanjang tahun 2012 ini, setidaknya hingga semester pertama. Dari evaluasi tersebut, Anda bisa mengambil kesimpulan untuk memperbaiki portofolio investasi, termasuk menata ulang alokasi dana dan pilihan investasi pada semester dua nanti. Dan untuk melakukan realokasi investasi, tentu harus kembali ke-pada pengetahuan dasar, yakni memahami karakteristik jenis atau altematif investasi dan di-kaitkan dengan kondisi pereko-nomian secara umum.

Terkait dengan alokasi dan pilihan investasi tersebut, pernah ada survei terhadap investor ataupun calon investor, jenis investasi apa yang dianggap me-narik. Hasil survey tersebut me-nyebutkan bahwa masyarakat kebanyakan menempatkan tanah sebagai pilihan investasi teratas, diikuti oleh berbagai pilihan investasi lainnya, yakni, emas, de-posito, obligasi, saham, tabungan, rumah, dan juga mobil.

Apakah pilihan investasi tersebut masuk akal dalam keadaan ekonomi yang masih diliputi ketidakpastian saat ini?

Investasi tanah dan emas

Tanah, misalnya. Jika lokasinya strategis, lazimnya dari wak-tu ke waktu akan mengalami pe-ningkatan harga. Ini mudah di-pahami, sebab, di lokasi yang strategis akan terjarli perkem-bangan ekonomi. Sciring dengan itu, akan ada permintaan terhadap tanah di sekitar, yang pada gilirannya akan mendongkrak harga. Jadi, jika menjadikan tanah sebagai alat investasi, kata kuncinya adalah lokasi. Dan ini terkait dengan informasi. Apakali di sekitar lokasi tanah yang akan dibeli akan ada rencana pengem-bangan atau tidak.

Kesimpulannya, investasi pada tanah berpotensi menguntung-kan jika investor memahami karakteristik lokasi tanah dimak-sud. Lalu bagaimana dengan situasi ekonomi saat ini? Investasi pada tanah bersifat jangka pan-jang. Dan ekonomi yang kurang baik, suatu ketika, akan baik kembali. Jadi, jika Anda menjadikan tanah sebagai salah satu alternatif investasi, bukanlah hal yang keliru.

Selanjutnya adalah emas. Sejak zaman dulu, emas sudah dikenal sebagai alat investasi tradisional. Dengan beragam alasan, kita bisa melihat masyarakat di sejumlah daerah, setiap memiliki kelebih-an dana pasti akan membeli emas. Selain sebagai barang per-hiasan, emas juga digunakan sebagai “simpanan” yang sewak-tu-waktu dapat dijual kembali. Bahkan jika membutuhkan dana mendesak, emas tersebut bisa digadaikan.

Namun, jika dilihat dari aspek keuangan, emas sebagai alat investasi sebenamya merupakan dampak langsung fungsi dan per-annya yang dikaitkan dengan ni-lai tukar dan juga sebagai ca-dangan devisa bagi suatu negara Dalam beberapa mazhab teori keuangan, harga emas disebut-kan berbanding lurus dengan ni-lai dollar AS. Jadi, berinvestasi pada emas, dianggap setara dengan berinvestasi pada dollar AS.

Saham, obligasi, deposito

Deposito berjangka bagi orang-orang yang memilikinya dipastikim setiap bulan akan mendapatkan imbalan bunga Di samping itu, deposito berjangka relatif memilikLrisiko yang ren-dah. Itu pula sebabnyn, imbal hasil (return) deposito berjangka relatif paling rendah dibandingkan dengan produk lainnya di sektor keuangan. Sementara itu, saham merupakan pilihan investasi yang berpotensi memberikan return paling tinggi dibandingkan investasi lainnya. Selain potensi dividen dari saham yang dipe-gang, investor juga bisa mendapatkan capital gain jika harga saham yang dipegangnya mengalami kenaikan.

Masalahnya, kondisi bursa saham saat ini memang dalam keadaan turbulensi. Jika pembelian saham dimaksudkan sebagai investasi jangka pendek, ada ba-iknya untuk dipertimbangkan kembali. feebab, bukan tidak mungkin yang akan diperoleh hanyalah capital loss. Tetapi, jika tujuan berinvestasi di saham bertujuan jangka panjang, seka-ranglah saat yang tepat untuk masuk ke pasar. Kenapa? Karena harga saham di pasar saat ini relatif murah dan umumnya tengah mengalami penurunan harga

Bagaimana dengan obligasi ? Saat ini bahkan sudah ada obligasi ritel yang diterbitkan oleh pemerintah. Sebagai alternatif investasi jangka panjang, obligasi bisa menjadi pilihan menarik karena investor akan mendapatkan imbalan bunga yang sudah pasti dan juga kemungkinan capital gain jika harga obligasi yang di-pegang mengalami kenaikan harga di pasar. Obligasi juga memiliki risiko yang lebih rendah dibandingkan dengan saham.

Tabungan. hakikatnya, bukan lah sebagai alat investasi. Ada beberapa alasan. Misalnya, tabungan bisa ditarik kapan saja, di mana saja Ini memperlihatkan bahwa karakteristik tabungan adalah bukan dana untuk disim-pan, melainkan sebagai kemu-dahan transaksi dan kebutuhan likuiditas. Lebih dari itu, tingkat bunga tabungan jauh di bawah bunga deposito. Bahkan kalau di-hitnng secara neto, imbal hasil tabungan atas dana yang meng-endap bisa di bawah laju inflasi. Jadi nilai uang di tabungan, setiap tahunnya malah bisa me-nurun kendati secara nominal mengalami peningkatan. Oleh karena itu, tabungan belum bisa dimasukkan sebagai pilihan investasi. | oleh Elvyn G Masassya

Lomba Tulis, Perlombaan Menulis

Di berbagai kota besar sering kali di adakan lomba tulis yang di tujukan untuk para pelajar. Pada umumnya, penyelenggara event seperti itu berasal dari media yang ada di kota tersebut. Atau juga dari salah satu lembaga atau komunitas yang lainnya. Lomba tulis semacam itu memang mempunyai nilai yang sangat positif bagi perkembangan anak-anak muda yang sangat rentan dengan pengaruh negatif. Dan tak jarang melalui lomba semacam itu pula, banyak lahirnya penulis-penulis yang hebat dengan umur yang terbilang masih muda.

Namun gaya penulisan dari masing-masing peserta yang mengikuti tentunya berbeda-beda. Masing-masing orang melakukan sebuah konstribusi tulisan dengan gaya penulisan yang berbeda-beda. Dari perbedaan iniliah yang sering mempunyai nilai karateristik tersendiri. Keunikan dan juga keistimewaan seperti lahir dengan sendirinya. Meki seperti itu, ada juga hal yang masih harus sangat di perhatikan oleh para penulis, yakni pemilihan kata atau diksi dan juga berbagai penggunaan istilah asing. Karena hasil tulisan dengan apapun gayanya, di bedakan menjadi 3 bagian sifat. Yaitu tulisan yang bersifat formal atau resmi, besifat impersonal atau dingin, dan juga bersifat netral.

Bagi anda yang sangat menyukai kegiatan menulis, anda bisa mengikuti berbagai acara lomba menulis di sekitar tempat anda. Anda bisa endaatkan informasi itu denganbantuan media internet, media cetak seperti majalah, atau media elektronik lainnya seperti tv, radio dan yang lainnya. Dengan mengikuti lomba tulis, kita bisa mendapatkan berbagai manfaat. Misalnya, manfaat yang paling klise adalah kita bisa mendapatkan pengalaman yang berguna manakala ada seseorang yang bertanya ‘sudah ikut lomba tulis’ terlepas dari segala hasilnya. Apakah menang atau kalah. Dengan mengikuti lomba tulis, paling tidak kita sudah membuktikan kepada diri kita sendiri dan orang lain bahwa kita sudah pernah menjadi peserta dalam lomba tulis.

Pemanas Listrik

Pemanas listrik adalah salah satu pemanfaat listrik sebagai sumber energi. Ketika listrik disambungkan pada bola lampu, bola lampu menyala. Nyala lampu adalah bentuk energi. Bentuk energi listrik yang lain adalah panas.

Berbagai jenis mesin listrik akan menghangat atau bahkan memanas saat bekerja karena listrik berubah menjadi panas. Akan tetapi, ada mesin listrik yang memanfaatkan energi listrik untuk menghasilkan panas. Misalnya, kompor listrik, pemanggang, oven, dan pemanas ruangan di beberapa rumah. Mesin-mesin ini mengambil energinya pada malam hari sehingga disebut mesin penyimpan panas karena menyimpan panas yang dihasilkan dan mengeluarkannya saat dibutuhkan.

Mungkin ada beberapa pemanas air listrik di dalam rumah. Ketel listrik, setrika uap, mesin cuci, dan pencuci piring memiliki elemen pemanas. Pemanas ini membuat air menjadi hangat atau cukup panas. Ada yang membuatnya sangat panas sehingga air mendidih. Setiap pemanas memiliki termostat yang mematikan arus listrik jika air sudah mencapai suhu yang diinginkan. Dalam beberapa pemanas, termostat dapat mengatur suhu panas atau dingin sesuai keinginan kita. Pemanas air bertenaga listrik ini disebut juga pemandian panas karena bagian yang memanaskan air, elemen pemanas, ditutup oleh air. Jadi, saat kamu ingin mandi air hangat kamu tinggal menghidupkan keran. Air masuk ke rumah sebagai air dingin dan mengalir masuk ke tangki pemanas. Pipa-pipa kemudian ke keran air panas sebagai hasil akhir dari pemanas listrik.

Manusia dan Hukum

Menjelang pergantian tahun 2010, saya sempat merenungkan kembali gagasan founding fathers sebagaimana tertuang dalam Konstitusi: ‘Negara berdasarkan hukum’. Tahun 2010 yang telah kita tinggalkan telah menorehkan berbagai persoalan hukum, tidak saja pada soal formulasi UU seperti formulasi RUUK DIY, melainkan juga soal praktik penegakan hukum yang masih sarat dengan bertagai persoalan baik itu di tingkat penyidikan, penuntutan maupun di pemeriksaan di pengadilan dan bahkan ketika terpidana sudah berada di rumah tahanan. Akankah di tahun 2011 hukum benar-benar dapat hadir untuk membahagiakan dan mensejahterakan manusia, terutama manusia-manusia yang tidak berdaya? Negara tentu punya tugas untuk mewujudkan hal itu.

Negara ada karena punya wilayah, ada penduduk dan ada pemerintah. Penduduk yang dimaksud tentu menunjuk pada subjek yang namanya manusia, maka manusia yang ada dalam negara itulah yang harus dilayani dan dilindungi oleh hukum. Manusia menjadi titik sentral dan sekaligus alasan mengapa hukum harus dihadirkan dan ditegakkan. Para pemikir hukum selalu mengingatkan bahwa hukum dibuat untuk manusia artinya hukum dihadirkan untuk kebahagiaan dan kesejahteraan manusia, bukan justru sebaliknya. Menurut Allport sebagaimana juga diyakini oleh Saparinah Sadli, bahwa manusia itu becoming, terus berubah, terns menjadi sebelum akhimya dia mati.

Menyadari bahwa manusia itu becoming, tidak dapat dipungkiri bahwa hal tersebut juga akan mempengaruhi dinamika dalam masyarakat dimana ia berada yang pada akhimya juga akan meminta dukungan tatanan normatif (hukum) sebagai acuan bersama. Tentu saja tatanan normatif tersebut juga harus dibaca sebagai suatu produk budaya masyarakat yang menciptakan. Sangatlah masuk akal jika berbagai tatanan normatif yang demikian tidak begitu saja cocok untuk dioper ke dalam suatu tatanan normatif pada masyarakat yang anggota-anggotanya memiliki karakter yang berbeda, nilai-nilai yang berbeda.

Sebagai misal adalah ide untuk memaksakan tatanan normatif baru tentang demokrasi di tingkat lokal yang di satu sisi seolah menjadi kebenaran tunggal bahwa baru dikatakan ada demokrasi kalau kepala daerahnya dipilih oleh rakyatnya secara langsung, meski ide itu juga mengesampingkan fakta sejarah. Secara teoretis dan praktis, sesungguhnya pengoperan suatu tatanan normatif hanya dimungkinkan jika ada kesamaan karakter manusia dan nilai-nilai yang diyakininya. Dalam il-mu hukum hal itu sering disebut sebagai adanya kesamaan asas-asas hukum sebagaimana sering dikatakan Guru Besar UGM, Prof Sudikno Mertokusumo.

Menurut Satjipto, sistem hukum Pancasila cocok untuk mewadahi berbagai nilai karakteristik yang ingin diwadahi oleh sistem hukum kita seperti kekeluargaan, kebapakan, keserasian, keseimbangan dan musyawarah. Nilai-nilai tersebut merupakan akar budaya hukum kita. Harus diakui memang sampai saat ini seringkali ada persoalan ketidakharmonisan antara sistem formal yang didominasi legalisme liberal dan sistem kekeluargaan, kebapakan, keserasian, keseimbangan dan musyawarah. Dengan kata lain sering diwacanakan bahwa sistem hukum Pancasila tidak match dengan rule of law yang tentu saja lahir dari sistem sosial yang berbeda dengan sistem sosial kita.

Maka ide Gubemur DIY Sri Sultan HB X tentang perlunya rule ofmora/justru yang harus diutamakan dan dipertimbangkan dalam penyusunan Peraturan Gubemur tentang Pekerja Rumah Tangga (PRT) katimbang rule of law dapat dibaca sebagai upaya konkrit untuk mengejawantahkan karakteristik nilai dalam tatanan normatif yang hendak dibangun.

Ke depan mari kita tinggalkan praktik yang seringkali memaknai dengan secara sangat sederhana bahwa negara berdasarkan hukum adalah negara berdasarkan UU atau bahkan cukup hanya berdasarkan pasal-pasal. Maka membangun hukum juga hanya dimaknai membuat UU dengan seringkali mengatasnamakan kepentingan rakyat meski tidak jelas rakyat yang mana.

Pada akhimya terwujud tidaknya bangunan sistem hukum yang benar-benar Indonesia terutama harus berpulang pada kita semua. Beranikah kita melawan dan menolak berbagai kepentingan yang tidak berpihak pada kepentingan rakyat Indonesia yang sesungguhnya?  – Penulis, pakar ilmu hukum/Dekan FH UAJY – Dr W Sari Murti W